You're Here : Home The News
The News
17
1010
PDF Print E-mail
Apa yang dikatakan iblis saat bertemu nabi muhammad saw
administrator
dari: Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: "Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku."

Rasulullah bersabda: "Tahukah kalian siapa yang memanggil?"

Kami menjawab: "Allah dan rasulNya yang lebih tahu."

Beliau melanjutkan, "Itu Iblis, laknat Allah bersamanya."

Umar bin Khattab berkata: "Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah".

Nabi menahannya: "Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik."

Last Updated on Sunday, 17 October 2010 10:42
Read more...
 
16
1010
PDF Print E-mail
Islam Hadir di Amerika Jauh Sebelum Christopher Columbus
administrator

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Last Updated on Sunday, 17 October 2010 10:26
Read more...
 
PDF Print E-mail
50 Juta Kartu Anggota NU untuk Antisipasi Teroris
administrator
Laporan wartawan Tribunnews.com, Racmat Hidayat

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang melakukan penataan administrasi keanggotaan dan pengurus NU di seluruh Indonesia dan luar negeri yang mencapai sekitar sekitar 50 juta orang. Penataan yang dilakukan  salah satunya adalah mengantisipasi terorisme didasari alasan,  warga NU berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok tertentu seperti terorisme.

“Kartu tanda anggota (KTA) NU ini sangat bermanfaat bagi warga NU. Juga bagi  bangsa dan negara khususnya dalam mengantisipasi terorisme. Meski, tak satu pun warga NU dan pesantren terlibat dalam gerakan terorisme yang makin ganas saat ini,” ujar Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj pada wartawan dalam acara peluncuran KTA NU di Hotel Borobudur Jakarta, Jumat (1/10/2010) malam.

Dikatakan, warga NU  yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, bahkan di dunia memiliki kekuatan nilai, moral, keunikan serta kekhasan tersendiri yang bila dikelola dengan baik dan benar dapat meningkatkan ukhuwah sesama warga NU.

“Kartu (NU) ini juga  diisi dengan informasi-informasi komprehensif baik untuk tujuan organisasi maupun tujuan peningkatan dan efisiensi warga NU dalam transaksi ekonomi sehari-hari. Dalam membangun masyarakat  mulia, bermartabat dan beradab dalam kerangka baldatun thoyyibatun warabbun ghafur, sesuai dengan akidah Ahlussunah wal jama’ah," ungkap Kang Said said lagi.
Sementara itu, Ketua PBNU H. Marsudi  menjelaskan, KTA NU ini  bekerjasama dengan Uni Emirat Arab dan PT. Vobi Indonesia. Diharapkan dapat direspon secara luas dari warga NU untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah.

“Yang jelas KTA NU ini untuk tertib administrasi dengan rapi dari nama, alamat, telepon dan lainnya  yang menunjang kebutuhan warga NU sehari-hari. Pada tahap awal, akan dimulai dari pengurus NU pusat sampai ranting dan kemudian anggota warga NU. Ini wajib dilakukan sebagai amanat Muktamar ke-32 Makassar,”ujar Marsudi seraya menjelaskan KTA berlaku selama satu tahun.


Penulis : rachmat_hidayat
Editor : prawiramaulana
 
07
0910
PDF Print E-mail
Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.

Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus—hendaklah hukum ditegakkan—walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503-1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.

Quid leges sine moribus (Roma)—apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?

Keberanian

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan.

Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin—kepentingan rakyat—keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.

Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi?

Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).

Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya—dengan jargon reformasi gelombang kedua—SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.

Oleh: Adjie Suradji

www.kompas.com
Last Updated on Tuesday, 07 September 2010 14:26
 
07
0910
PDF Print E-mail
Bungaku
administrator

Bungaku,,,
janganlah kau layu sebelum aku menyiramimu
janganlah kau jatuh sebelum aku memetikmu
Merekahlah, karna aku janji akan merawatmu

Bungaku,,
sebarkan wangimu agar aku dapat menciummu,
dan pancarkan warnamu agar aku dapat melihatmu,
ketika aku jauh darimu

Bungaku
jadilah kau kebangganku,
kebanggan pohon yang melahirkanmu
janganlah kau buat kecewa,
air dan pupuk yang telah membesarkanmu
berlindunglah ketika ada orang yang ingin memetikmu,
selain diriku

Kekasihku
ketika aku terbangun,
indah kubayangkan cantik dirimu, dan baik hatimu
dan ketika aku tersadar,
sekuntum bungapun belum pernah kuberikan padamu
tapi percayalah,
aku sangat mencintaimu, setulus hatiku

Last Updated on Wednesday, 08 September 2010 22:31
 
Page 4 of 5

« StartPrev12345NextEnd »