You're Here : Home The News Akibat Ceroboh Konspirasi Gayus cs Berantakan …
Akibat Ceroboh Konspirasi Gayus cs Berantakan … PDF Print E-mail
Administrator / Thursday, 11 November 2010 13:51
Addthis

Sebuah konspirasi rahasia dapat saja berantakan atau terbongkar akibat dari suatu kecerobohan. Salah satu saja anggota konspirasi melakukan kecerobohan itu, maka terbongkarlah rahasia mereka. Apalagi apabila konspirasi terebut dilakukan tanpa persiapan yang matang, tanpa koordinasi yang profesional, yang bisa membuat para anggota yang terlibat di dalamnya tidak kompak, atau suatu kejadian tak terduga, sehingga secara tidak sengaja membongkar sendiri konspirasi rahasia mereka.

Barangkali itulah yang telah terjadi dalam suatu konspirasi rahasia, atau pertemuan rahasia yang melibatkan tersangka mafia pajak tahanan Gayus Halomoan Tambunan dengan seseorang di Nusa Dua, Bali. Tepatnya di lokasi  saat pertandingan Tennis Tournament Commonwealth Bank of Champions di Nusa Dua, Bali, pada Jumat dan Sabtu (5 dan 6 November lalu).

Rencana suatu kosnpirasi itu akhirnya gagal, karena beberapa faktor kecerobohan yang justru dilakukan oleh para aktornya sendiri, dan satu kejadian tak terduga.

Kehebohan berawal dari berita bahwa Gayus “menghilang” dari tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, pada Jumat, dan Sabtu lalu (5 dan 6 November 2010).

Kemudian di pertandingan tenis di Nusa Dua, Bali itu, para wartawan pun heboh, ketika mendapat kabar dari seorang petugas penyobek karcis yang mengatakan dia melihat seseorang yang sangat mirip Gayus yang menonton pertandingan tersebut.

Para wartawan pun mencari-cari Gayus. Akhirnya wartawan Kompas Agus Susanto berhasil mengambil gambar dari jarak jauh seseorang yang sangat mirip Gayus. Dilihat dari foto tersebut, bisa dikatakan bahwa orang tersebut bukan saja mirip, tetapi kembar.

Dari foto pembanding antara Gayus dengan orang yang dikatakan mirip Gayus tersebut kelihatan sekali bahwa keduanya kembar. Penampilan orang yang disebut-sebut media “mirip Gayus” tersebut, kelihatan memakai rambut palsu, dan gerak-geriknya yang sebentar-sebentar membetulkan rambutnya, dan menutup hidung dan mulutnya, merupakan tanda-tanda orang yang sedang gelisah karena takut penyamarannya diketahui.

Kita tidak perlu seorang pakar telematika, atau sejenisnya untuk bisa memastikan hal tersebut. Orang awam pun bisa dengan mudah mengenalinya karena antara keduanya mempunyai ciri-ciri yang bukan hanya mirip, tetapi sama. Terbukti seorang amatir tukang sobek karcis pun dengan mudah mengenalinya.

Inilah yang saya maksudkan sebagai suatu kecerobohan dari seorang anggota yang melakukan konspirasi yang mungkin sedang punya rencana untuk melakukan suatu pertemuan rahasia dengan seseorang.

Ceroboh karena penyamarannya terlalu amatir, hanya menggunakan rambut palsu, sedangkan semua ciri khas dari wajahnya tetap terbuka, sehingga siapapun bisa dengan mudah mengenalinya.

Lokasinya sengaja dipilih di tempat ramai, pertandingan tenis tersebut, supaya tidak terduga dan tidak terlacak. Inspirasinya mungkin muncul karena yang punya skenario suka menonton film-film detektif, dan menirukannya.

Konspirasi atau rencana pertemuan rahasia dengan seseorang itu pun berantakan, berawal dari bocornya berita yang mengatakan bahwa Gayus “hilang” dari tahanan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Kemudian diikuti dengan “ditemukan” seorang laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan Gayus, bahkan hampir dapat dipastikan itu Gayus yang sedang menyamar dengan menggenakan rambut palsu.

Pertanyaannya: Apabila terbukti bahwa orang itu benar-benar Gayus, untuk apa dia hadir di sana? Apakah hanya untuk demi menonton langsung pertandingan tenis tersebut? Padahal dia mengaku tidak hobi dan tidak suka dengan tenis?

Pengakuan Gayus ini sekaligus merupakan kecerobahan kedua, akibat dari ketidak kompaknya mereka yang terlibat dalam konspirasi tersebut.

Sebelum “Gayus” ditemukan di antara penonton pertandingan tenis itu, Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Iskandar Hasan, membenarkan bahwa pada hari Sabtu lalu, Gayus sempat dikeluarkan dari tahanan, dengan alasan berobat. Kata dia, Gayus stres berat, dan meriang, dan minta diperiksa, berobat ke luar tahanan.

Entah karena Gayus tidak tahu ada keterangan dari Irjen Iskandar Hasan itu, ketika ditanya wartawan, dia dengan tegas-tegasnya membantah pernah sakit, dan keluarrumah tahanan. Gayus mengatakan bahwa dia sehat-sehat saja, dan tidak pernah keluar tahanan di luar acara pengadilannya

Dengan adanya dua keterangan yang sangat bertentangan ini saja, kita patut curiga bahwa memang ada sesuatu misteri di balik ini. Ada suatu konspirasi busuk di balik semua ini.

Salah satunya, atau dua-duanya pasti berbohong. Dan, untuk apa dia atau mereka berbohong?

Gayus juga membantah bahwa dia keluar tahanan sampai pergi ke Bali untuk menonton pertandingan tenis tersebut.

Lalu siapa laki-laki yang diambil gambarnya oleh wartawan Kompas Agus Susanto itu? Masa iya ada orang yang sedemikian mirip dengan Gayus?

Untuk menjawab misteri ini, kalau memang orang itu bukan Gayus, hanya mirip sekali saja. Maka perlu diupayakan untuk segera menghadirkan laki-laki tersebut.

Rasanya, tanpa dicari pun, kalau benar ada laki-laki yang sangat mirip dengan Gayus menonton pertandingan tenis itu, dan diambil gambarnya oleh Agus Susanto itu, dia pasti yang bersangkutan sudah memunculkan dirinya ke publik. Karena peristiwa ini tentu saja sangat tidak mengutungkan baginya. Dia perlu muncul untuk segera melakukan klarifikasi.

Investigasi lain yang bisa ditempuh adalah dengan memeriksa manifes penumpang dari beberapa maskapai penerbangan yang mengambil rute Jakarta-Bali, atau rute lainnya yang mengarahkan seseorang menuju ke Nusa Dua pada hari-hari tersebut.

Penjelasan susulan Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Iskandar Hasan, yang baru melengkapi keterangannya untuk memperkuat penjelasan dia sebelumnya, juga mengindikasikan adanya suatu kejanggalan dan kecerobahan yang membuat kita malah semakin curiga.

Dalam keterangan susulannya itu Irjen Iskandar Hasan mengatakan bahwa Gayus benar sempat dibawa keluar dari tahanannya dengan pengawalan untuk memeriksa kesehatannya di Rumah Sakit Polri Sukanto Kramat Jati, Jakarta Timur.

Tetapi, “perkara setelah berobat terus ngeloyor ke mana itu perkara lain lagi. Ini akan kami seldidiki,” katanya.

Apakah ini keterangan bukan sebagai suatu upaya awal cucitangan karena terlanjur Gayus ketahuan ke Bali?

Bagaimanapun penjelasannya tetap saja janggal. Karena bukankah untuk keluar tahanan sekalipun dengan alasan berobat harus memperoleh izin tertulis terlebih dahulu dari Ketua Majelis Hakim yang sedang memeriksa perkaranya? Sedangkan Ketua Majelis Hakim yang dimaksud, Albertina mengaku, tidak pernah menerima permohonan tersebut, apalagi memberi izin kepada Gayus keluar tahananya.

Apakah ini bentuk suatu kecerobahan lain? Memberi suatu keterangan alibi, tetapi ternyata keterangan tersebut malah mengungkapkan suatu kebohongan atau setidaknya suatu pelanggaran aturan hukum; seorang tahanan dikeluarkan tanpa izin dari majelis hakim yang meriksanya?

Apabila ternyata benar bahwa Gayus-lah yang ditemukan sedang menonton pertandingan tenis di sana, pertanyaannya, apakah benar hanya demi menonton pertandingan tenis itu dia nekad berkomplot dengan petugas di rumah tahanannya itu berangkat jauh-jauh ke Bali hanya untuk menonton langsung pertandingan itu? Apakah dia seorang fanatik olah raga tenis? Karena hanya seorang yang benar-benar fanatik, yang bisa nekad seperti itu. Tidak cukup hanya nonton di televisi.

Sedangkan Gayus sendiri mengaku bahwa dia tidak suka dengan olah raga tenis.

Untuk mengetahui dia benar-benar suka atau tidak suka tenis, gampang saja, dengan menelusuri hobi-hobi dan kebiasaannya selama ini.

Kalau benar Gayus hadir di tribun penonton tersebut, sedangkan dia tidak suka tenis, lalu untuk apa dia di sana?

Apakah ada hubungan dengan kemunculan Aburizal Bakrie, yang anehnya menonton pertandingan tersebut dari tribun kelas biasa, bukan VIP.

Apakah tidak janggal seorang sekaliber Aburizal Bakrie menonton pertandingan tenis kelas dunia itu dari tribun penonton kelas biasa, bukan VIP? Apalagi kesannya seperti sembunyi-sembunyi, sebelum akhirnya “ketahuan”?

Kehadiran Aburizal Bakrie secara tak sengaja “ketahuan” mantan Ketua KONI Agum Gumelar yang juga sedang menonton bersama istrinya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Gumelar, dan anak mereka.

Agum lalu berteriak memanggil-manggil Ical untuk datang duduk bersama mereka di tribun VIP. “Hai, Ical, sedang apa kau di situ. Ayo, bergabung di sini!” Demikian teriakan Agum yang didengar wartawan, sehingga menarik perhatian mereka. Maka secara tak sengaja wartawan pun memergoki Abu Rizal Bakrie yang entah kenapa hadir sendiri di sana, nonton dari tribun bukan VIP.

Mungkin saja, terlihatnya dia oleh Agum Gumelar juga bukan sesuatu yang dikehendaki. Untuk apa dia seorang diri nonton dari tribun bukan VIP? Untuk tidak menarik perhatian, atau tidak diketahui oranglain? Kenapa?

Maka suatu kejadian tak terduga pun terjadi, yang semakin memperkuat dugaan ada sesuatu misteri, atau pertemuan rahasia di balik hadirnya Gayus Tambunan, dan kemudian Aburixal Bakrie di lokasi yang sama itu.

Menurut Anda? ***

 

http://hukum.kompasiana.com/2010/11/09/akibat-ceroboh-konspirasi-gayus-cs-berantakan/ 

Last Updated on Thursday, 11 November 2010 13:54