photolog

07
0910
PDF Print E-mail
Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.

Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus—hendaklah hukum ditegakkan—walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503-1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.

Quid leges sine moribus (Roma)—apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?

Keberanian

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan.

Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin—kepentingan rakyat—keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.

Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi?

Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).

Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya—dengan jargon reformasi gelombang kedua—SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.

Oleh: Adjie Suradji

www.kompas.com
Last Updated on Tuesday, 07 September 2010 14:26
 
Page 8 of 8

« StartPrev678NextEnd »

My ServicesWhat Projects Can I Do?

Selain mengerjakan Desain Web dan Grapik saya jiga menerima order pekerjaan yang berhubungan dengan IT seperti Trainer Web, Pembuatan Aplikasi, Seting Jaringan dan Lain-lain.
100guaranteed
Kepuasan Klien adalah prioritas saya dalam menerima order pekerjaan.

About Me

zangseleboy' Zang'sELeboY '

Nama saya Ajang Sopandi, Lahir di Subang sebuah kota kecil di utara Bandung Jawa Barat pada tanggal 5 Maret tahun 1982 dan terlahir sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara yang semuanya kebetulan laki-laki. Dikeluarga saya biasa dipanggil Ajang, sedangkan banyak teman-teman saya memanggil saya Zangse.

ZANGSELEBOY adalah nama kecil saya yang selalu saya gunakan didunia maya. Nama tersebut tidak mengandung arti apa-apa hanya saja saya suka menggunakan nama tersebut karena terdengar unik.

Tapi kalau dirunut sejarahnya (:-D) Nama  Zang'sELeboY sendiri berasal dari dua kata Zangse dan Leboy. Zangse adalah nama panggilan saya sedangkan Leboy berasal dari Le(Singkatan dari lelaki)=Boy=anak laki-laki (English), Selain itu  kata Leboy terinspirasi dari Leboye (www.leboyedesign.com) Sewaktu kuliah saya sering sekali membuka situs tersebut karena saya menyukai karya dan artikel-artikelnya. Jadi Zang'sELeboY kira-kira artinya Zangse (Ajang) seorang anak laki-laki yang menyukai desain. Yah begitulah kira-kira, terkesan agak memaksakan memang....-:D

Tapi kenyataanya memang kata Zang'sELeboY muncul dengan sendirinya.

Pendidikan saya, SD dan SMP saya sekolah di Subang sedangkan SMA dan Kuliah di Jakarta:

  • SD : SDN 3 Pringkasap III (Kelas 1-4) dan SDN Bineka (Kelas 5-6)
  • SMP: SLTPN 2 Pabuaran (Nama Sekolah berobah pas saya kelas 3, sebelumnya SLTPN 3 Pabuaran)
  • SMA: SMUN 1 Ciputat (Sekarang SMAN 1 Kota Tangerang Selatan)
  • PT: Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Teknik Informatika.

Lulus kuliah tahun 2005, Saat ini saya bekerja sebagai Creative & Web Design disebuah perusahaan IT swasta di Jakarta. Selain itu juga saya seorang Freelancer  Web Designer dan Web Trainer.


Salam

 

Ajang Sopandi

Banner
Banner
Banner
Banner
1234

Contact Us


winner

Login Form

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday9
mod_vvisit_counterYesterday1
mod_vvisit_counterThis week34
mod_vvisit_counterLast week36
mod_vvisit_counterThis month97
mod_vvisit_counterLast month243
mod_vvisit_counterAll days281789

We have: 8 guests online
Today: Dec 16, 2017

Networks

twitter2Twitter
follow me


fb_iconFacebook
Add me


Yahoo_2Messanger
Chat Me


GMailGMail
Email Me